Cash flow forcasting
Setiap kali berbicara tentang prakiraan arus kas (cash flow forecasting), saya selalu suka menganalogikannya dengan aktifitas mengemudi. Bayangkan ketika anda mengemudi di jalan tol—segala kejadian nampak jelas dari kejauhan. Melihat arus lalu lintas yang begitu lancar di depan sana, setiap pengemudi bukan saja merasa nyaman untuk melesat di atas kecepatan rata-rata, tetapi juga bisa melakukan manuver ke arah yang diinginkan tanpa keraguan, dengan kepercayaan diri yang penuh.
Lalu bandingkan: jika kaca depan mobil tertutup oleh debu atau kertas, misalnya. Bagaimana seorang pengemudi tahu kapan harus mengubah kecepatan atau arah?
Kemampuan untuk melihat jauh ke depan adalah alat yang ampuh—memungkinkan setiap orang yang memilikinya untuk melakukan penyesuaian yang lebih terarah terhadap setiap tantangan yang muncul.
Menjalankan usaha tidak jauh berbeda, namun terlalu banyak pemilik usaha (entrepreneur) yang mengemudi secara membabi buta ketika berhadapan (dan mengambil keputusan) terkait dengan arus kas jangka pendek mereka. Banyak pemilik usaha mengkondisikan diri mereka sendiri untuk hidup di bawah bayang-bayang ketidakjelasan—tidak pernah tahu kapan mereka akan menghadapi krisis kas, tidak menyadari bahwa mereka bisa menghilangkan kecemasan tersebut hanya dengan menghapus debu/kertas yang menghalangi pandangan mereka ke depan. Caranya? Ya bikin prakiraan atau proyeksi arus kas (cash flow forecasting).
Oke. Saya tahu banyak pengusaha yang menganggap ‘kejutan atas defisit kas (bersaldo negatif)’ adalah bagian dari menjalankan bisnis, dengan asumsi dasar bahwa tidak ada alternatif yang lebih baik, selain melakukan sesuatu setiap kali saldo kas menunjukan angka minus. Padahal sesungguhnya ada, yaitu dengan membuat prakiraan atau proyeksi arus kas (cash flow forecasting).
Setiap kali saya menyebutkan perkiraan atau proyeksi dengan sekelompok pemilik bisnis, setidaknya sepertiga dari mereka menjadi tampak skeptis. Diantara komentar yang paling skeptis yang pernah saya dengar adalah yang mengatakan, “Tidak ada cara untuk memprediksi masa depan,” atau “Saya tidak pernah tahu kapan pelanggan saya akan membayar, jadi bagaimana mungkin saya bisa memprediksi arus kas.”
Dan, tanggapan saya terhadap skeptisisme mereka selalu sama:
“Sebelum Anda mengatakan itu tidak mungkin, tolong sebutkan berapa banyak kecemasan dan kekhawatiran anda akan berkurang jika saya bisa menjamin bahwa anda tidak akan memiliki kejutan arus kas selama paling tidak 90 hari ke depan? Ya. Anda akan tahu lebih awal bahwa anda punya cukup (atau kurang) kas untuk membayar gaji pegawai bulan depan, kemampuan (atau ketidakmampuan) membayar bunga dan pokok pinjaman, membayar supplier, termasuk membayar pajak”
Tidak peduli seberapa pesimis seorang pengusaha terhadap akurasi prakiraan (forecast), tetap saja mereka tidak dapat menyangkal satu hal bahwa mereka rata-rata tergolong problem-solver. Dan tingkat keberhasilan mereka dalam kapasitas ini akan semakin meningkat, semakin awal mereka mengendus potensi masalah—mereka menjadi memiliki lebih banyak waktu untuk memecahkan masalah tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat membantu para pengusaha untuk mulai menyadari akan adanya kemungkinan beberapa informasi berpola yang jika disusun dengan disiplin dapat membantu mereka untuk mengurangi kecemasan terkait dengan arus kas di masa-masa yang akan datang:
- Apakah pelanggan anda menunjukan pola tertentu dalam melakukan pembayaran terhadap poduk/jasa yang anda serahkan? (Misal: Setiap hari, setiap minggu, 2 kali sebulan, atau setiap akhir bulan)
- Apakah anda memiliki biaya tetap (misal: biaya sewa, biaya gaji atas pegawai administrasi) yang bisa diperkirakan secara akurat untuk tiga bulan ke depan?
- Apakah anda memiliki prosedur (tata cara) untuk menentukan kapan anda harus membayar vendor/pemasok anda?
- Apakah anda memiliki perkiraan mengenai berapa besar volume penjualan untuk satu kuartal ke depan?
Dengan pertanyaan-pertanyaan di atas (dan beberapa pertanyaan lain yang sejenis) mereka dapat menemukan basis validasi, dan asumsi waktu yang dapat dipergunakan untuk memproyeksikan (membuat prakiraan) arus kas selama kurun waktu 90 hari ke depan. Informasi ini biasanya disusun mingguan, perkiraan akun untuk arus kas masuk dan keluar, beserta perkiraan saldo (besarnya jumlah yang tersisa) atas kas.
Secara keseluruhan, prakiraan (proyeksi) arus kas (cash flow forecast) adalah alat navigasi yang dapat menuntun pengusaha untuk mengambil keputusan yang lebih baik terkait dengan arus kas, termasuk tata kelola modal kerja yang labih efektif.
Tentu saja tidak akan membuat pengeluaran kas menjadi berkurang atau kas masuk menjadi bertambah. Akan tetapi, dengan prakiraan arus kas pengusaha menjadi dapat melakukan antisipasi lebih dini, sehingga memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkannya, dan keputusan yang sifatnya tergesa-gesa (membabi-buta) menjadi bisa diminimalisir.
Balance ScoreCard
Balance Scorecard
Idealnya setiap manajemen perusahaan pasti perlu sebuah alat ukur untuk mengetahui seberapa baik sih performa perusahaan?. Nah objek yang selalu diukur biasanya bagian keuangan, kenapa bagian keuangan? Karena keuangan ini berbicara tentang angka sehingga mudah sekali untuk diukur. Jika perusahaan bagus, brarti laba, jika perusahaan jelek brarti tidak laba, rasionya bagus, rasionya jelek. Mudah sekali menganalisa dari angka ya kan. Dari jaman kita sekolah kemampuan kita selalu di ukur oleh angka, rangking, nem, IPK. Jika ipknya jelek berarti bodoh, tidak bagus dan sebagainya. Padahal ada banyak hal yang bisa menentukan performa seseorang. Begitu juga perusahaan, angka tidak selalu menunjukan performa yang sebenarnya. Ilustrasi mudahnya ada sebuah perusahaan yang secara rasio dan financial bagus tapi selalu mengalami kendala dalam human resources, tingkat froud tinggi, dan turn over orang-orangnya sangat cepat bahkan perusahaan sudah merasa memberikan yang terbaik. Akhirnya lama kelamaan perusahaan ini divisinya tutup satu persatu dan terancam mengalami kejatuhan. Lho koq bs? Ya itu tadi tingkat froud yang tinggi, salah percaya sama bawahan dan kinerja karyawan yang buruk. Visi misi perusahaannya keren “kualitas terjamin, harga bersaing, pelayanan terbaik. Karyawan sejahtera maju bersama, semua bahagia” faktanya kualitas tidak terjamin, harga bersaing, pelayanan awal-awal terbaik lama-lama tidak, karyawan tidak sejahtera, perusahaan maju, karyawannya tidak maju pada akhirnya sama-sama tidak maju. Kalian tau kenapa? Karena indicator yang mereka lihat hanya angka. Padahal ada banyak konsep, banyak kinerja lain dan ukuran-ukuran lain yang harus diperhatikan dalam menganalisa kemampuan sebuah manajemen.
Nah kenyataan ini lah yang akhirnya membuat Robert Kaplan dan david Norton memperkenalkan balance score card. Dimulai dari sebuah riset mereka berdua ditahun 1990an tentang pengukuran kinerja organisasi masa depan, istilah balance scorecard sudah mulai terdengar dikalangan eksekutif manajemen bahkan ke akademik. Balance scorecard jika boleh saya sederhanakan adalah salah satu konsep untuk mengukur apakah aktivitas operasional perusahaan dalam skala kecil sesuai dengan sasaran dan tujuan jangka panjang dengan tidak hanya mengukur kinerja keuangan tetapi juga kinerja non keuangan atau masalah manusianya. Secara harfiah balance scorecard ini terdiri darii dua kalimat pertama balanced (berimbang) dan scorecard (kartu score). Berimbang dapat diartikan dengan kinerja yang di ukur secara berimbang dari dua sisi yaitu keuangan dan non keuangan, mencangkup jangka pendek dan jangka panjang serta melibatkan bagian internal dan eksternal. Sedangkan pengertian kartu skor adalah suatu kartu yang digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja baik untuk kondisi sekarang ataupun untuk perencanaan dimasa yang akan datang.
Sederhananya balance scorecard meyakini bahwa kinerja keuangan sebenarnya merupakan akibat dari kinerja non keuangan yang secara komprehensif mencangkup 4 pandangan yaitu: Keuangan, costumer, proses bisnis / intern dan pembelajaran-pertumbuhan. Ini ilmiah, terbukti dan bukan Cuma teori dan logikanya aja yang benar. Dari hasil penelitian perushaan yang ikut sebagai “kelinci percobaan” ternyata mengalami pelipatgandaan kinerja keuangan mereka. Sayangnya di Indonesia masih banyak sekali perusahaan yang merasa belum berminat untuk menggunakan analisa ini “selama perusahaan ku masih bisa bernafas, cashflow lancar… I don’t care”
Balance scorecard memiliki komponen yang sangat unggul dalam melakukan analisa yaitu
Komprehensif
Sebelum konsep Balanced scorecard lahir, perusahaan beranggapan bahwa perspektif keuangan adalah perspektif yang paling tepat untuk mengukur kinerja perusahaan. Setelah balanced scorecard berhasil diterapkan, para eksekutif perusahaan baru menyadari bahwa perspektif keuangan sesungguhnya merupakan hasil dari 3 perspektif lainnya yaitu customer, proses bisnis, dan pembelajaran pertumbuhan. Pengukuran yang lebih holistic, luas dan menyeluruh (komprehensif) ini berdampak bagi perusahaan untuk lebih bijak dalam memilih strategi korporat dan memampukan perusahaan untuk memasuki arena bisnis yang kompleks.
Koheren
Di dalam balanced scorecard dikenal dengan istilah hubungan sebab akibat (causal relationship). Setiap perspektif (Keuangan, costumer, proses bisnis, dan pembelajaran-pertumbuhan) mempunyai suatu sasaran strategik (strategic objective) yang mungkin jumlahnya lebih dari satu. Definisi dari sasaran strategik adalah keadaan atau kondisi yang akan diwujudkan di masa yang akan datang yang merupakan penjabaran dari tujuan perusahaan. Sasaran strategik untuk setiap perspektif harus dapat dijelaskan hubungan sebab akibatnya, sebagai contoh pertumbuhan Return on investmen (ROI) ditentukan oleh meningkatnya kualitas pelayanan kepada customer, pelayanan kepada customer bisa ditingkatkan karena perusahaan menerapkan teknologi informasi yang tepat guna. dan keberhasilan penerapan teknologi informasi didukung oleh kompetensi dan komitmen dari karyawan. Hubungan sebab akibat ini disebut koheren, kalo disimpulkan semua sasaran strategik yang terjadi di perusahaan harus bisa dijelaskan. Sebagai contoh mengapa loyalitas customer menurun, mengapa produk perusahaan menurun, mengapa komitmen karyawan menurun dan sebagainya.
Seimbang
- Keseimbangan antara indicator keberhasilan financial dan non financial, balance scorecard sendiri awalnya dibuat untuk mengatasi kekurang handalan ukuran performa financial dengan menyeimbangkan pemicu lain untuk performa yang mengacu pada kinerja masa depan. Ini masih menjadi prinsip dari system balanced scorecard.
- Keseimbangan antara konsituen internal dan eksternal dari organisasi. Shareholder dan pelanggan merepresentasikan wakil eksternal sementara karyawan dan proses internal merepresentasikan wakil internal. Balance scorecard berusaha menyeimbangkan kebutuhan kedua group yang tak jarang menjadi kontradiktif satu sama lain untuk bisa secara efektif mengimplementasikan strategi
- Keseimbangan antara indicator performa lag dan lead. Inidikator lag secara umum merepresentasikan performa masa lalu. Contohnya kepuasan pelanggan atau revenue. Meskipun ukuran tersebut umumnya cukup objektif dan bisa diakses dengan mudah. Namun mereka mempunyai daya prediktif yang lemah. Sementara itu indicator lead adalah pemicu performa yang membawa pada pencapaian indicator lag. Indikator ini biasanya berbentuk ukuran atas proses dan aktifitas. Pengiriman tepat waktu misalnya, bisa merepresentasikan inkator lead dan ukuran lag nya ada lah kepuasan pelanggan. Suatu balance scorecard harus berisi campuran/paduan antara indicator lag dan lead. Indicator lag yang tanpa disertai oleh ukuran lead tidak akan mengkomunikasikan bagaimana target akan diraih. Sebaliknya, indicator lead tanpa ukuran lag akan menghasilkan perkembangan jangka pendek namun tidak Nampak bagaimana perkembangan tersebut berdampak pada peningkatan benefit bagi pelanggan dan juga shareholders.
Terukur
Dasar pemikiran bahwa setiap perspektif dapat diukur adalah adanya kenyakinan bahwa ‘if we can measure it, we can manage it, if we can manage it, we can achieve it’. Sasaran strategik yang sulit diukur seperti pada perspektif customer, proses bisnis/ intern serta pembelajaran dan pertumbuhan dengan menggunakan balanced scorecard dapat dikelola sehingga dapat diwujudkan.
Bagaimana sih balance scorecard ini ditinjau dari system manajemen strategic perusahaan? Didalam system manajemen strategic ada 2 tahapan penting yaitu perencanaan dan implementasi. Posisi balance scorecard awalnya hanya berada di tahap impementasi saja yaitu sebagai alat ukur kinerja secara komprehensif dan memberikan feedback tentang kinerja manajemen namun lama kelamaan setelah suksesnya balance scorecard dalam penerapannya akhirnya balance scorecard masuk ke tahapan yang lebih tinggi yaitu perencanaan strategic. Jadi tidak hanya bisa mengukur kinerja, tapi berkembang menjadi strategic manajemen system.
jobdesc Financial Controler
Financial Controller atau sering cuma disebut Controller saja, adalah jenjang puncak tertinggi dari tingkat jabatan dibidang Accounting dan Keuangan. Memiliki Fungsi, tugas dan tanggung jawab serta kewenangan tertinggi di bagian Accounting dan Keuangan. Perusahaan yang sadar akan pentingnya Pengendalian Keuangan, sudah tentu membutuhkan seorang Financial Controller.
Tugas, Peranan dan Tanggung Jawab Utama Financial Controller
Berperanan langsung terhadap urusan keuangan dan persiapan analisa operasional perusahaan, termasuk laporan keuangan dan interim terjadwal.
Bertanggung jawab terhadap perencanaan dan kebijakan dibidang keuangan, praktek akuntansi, termasuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan institusi pembiayaan dan komunitas keuangan, menangani perpajakan, menganalisa dan menilai laporan keuangan sebelum ditetapkan menjadi laporan fiscal dan laporan keuangan resmi perusahaan, Ikut serta dalam mengawasi staf dibagian accounting dan keuangan, Akuntansi Umum, Akuntansi Aktiva, Akuntansi Biaya, dan pengawasan terhadap anggaran.
Tugas dan Peranan Dasar Financial Controller
1) Membentuk, menganalisa dan menginterpretasikan data statistik maupun informasi keuangan, sehingga dapat memberikan penilaian yang independent mengenai rasio atau perbandingan antara hasil operasi (tingkat keuntungan) dan kinerja terhadap anggaran, dan hal-hal lain terkait dengan perpajakan maupun tingkat ke-efektif-an operasional perusahaan
2) Bertanggung jawab secara langsung untuk mengevaluasi kinerja staf maupun manajer Bagian Accounting. Kemampuan untuk memberikan pelatihan terhadap karyawan adalah diperulan, bertugas untuk menjaga keterampilan staf di bagian keuangan dan accounting agar tetap berada di level yang terbaik, boleh memberikan rekomendasi untuk mengangkat maupun memberhentikan staf maupun manajer di bagian accounting dan keuangan.
3) Menjaga sistem akuntansi dan pencatatan transaksi maupun aset perusahaan.
4) Berpartisipasi di dalam menyusun anggaran dan peramalan keuangan, institusi, dan pengawasan terhadap perencanaan, pelaksanaan prosedur, analisa dan pelaporan selisih.
5) Bertanggung jawab terhadap perencanaan perpajakan, sejalan dengan peraturan Ditjen Pajak terkait dengan peraturan pemerintah setempat mengenai penggajian dan pengupahan, serta peraturan lainnya terkait dengan perpajakan.
6) Melengkapi laporan internal, beserta perbaikan dan perubahannya agar dapat lebih berguna dan efisien, serta kelengkapan laporan terhadap pihak eksternal perusahaan.
7) Menilai tingkat penyusutan aktiva yang dapat dikapitalisasi dan memberikan saran kepada pihak manajemen manakala diperlukan penyesuaian terkait dengan perubahan peraturan maupun undang-undang perpajakan.
8 ) Bekerja sama dengan Kepala Bagian Keuangan mengenai alur pembukuan maupun peningkatan prosedur dan prosesnya.
9) Mengawasi proses tutup buku bulanan, termasuk penjadwalannya, menilai semua journal-jurnal pembukuan dan analisa terhadap akun-akun yang ada.
10) Mengkoordinasikan pemeriksaan tahunan dan persiapan tutup buku tahunan.
11) Meneliti rekening Koran dan laporan rekonsiliasinya atas bank yang mengelola keuangan perusahaan, anak, atau cabang perusahaan (bila ada).
12) Mempertahankan pencatatab jadwal penarikan aktiva dari operasional perusahaan.
13) Menajaga inforamsi atas akun-akun investasi.
14) Menuntaskan proses pengembalian pajak (restitusi pajak) beserta rekonsiliasinya.
15) Memeriksa utang untuk memastikan bahwa sistem pengawasan internal dipatuhi.
Kwalifikasi Jabatan Financial Controller
Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, seorang financial controller hendaknya mampu melaksanakan fungsinya yang dapat memuaskan pihak pemilik perusahaan. Kwalifikasi yang akan disebutkan dibawah ini adalah mewakili persayaratan pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Financial Controller.
a) Pendidikan dan atau Pengelaman
Minimal seorang Sarjana Akuntansi, keuangan atau bidang terkait. Memiliki sertifikasi Akuntan Publik, hendaknya memiliki pengalaman minimal 5 tahun mengelolaan keuangan.
b) Kemampuan Berbahasa dan Komunikasi
Harus memiliki kecakapan berkomunikasi yang sempurna, baik lisan maupun tertulis. Mampu membaca, menganalisa dan menginterpretasikan laporan ilmiah maupun hasil riset dibidang keuangan, laporan imiliah profesi, prosedur dan peraturan pemerintah,. Mampu menulis laporan bisnis, surat-menyurat maupun menulis petunjuk atau intsruksi terhadap suatu prosedur. Mampu mempresentasikan suatu informasi, serta memberikan respon terhadap pertanyaan berbagai pihak.
c) Keterampilan Matematis
Mampu bekerja mempergunakan konsep-konsep matematis ( konsep probabilitas, statistika dan ekonomitrika lainnya). Mampu mengaplikasikan konsep pemecahan, prosentase, rasio, perata-rataan, dan proporsi dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari.
d) Kemampuan Penalaran
Mampu memcahkan masalah praktis dan menangani beragam variable dalam situasi dimana satandar atau pedoman yang tersedia sangat terbatas.
e) Kerahasiaan Data
Mampu menjaga dan menjamin kerahasiaan data-data perusahaan.
f) Koneksi di Dalam Maupun di Luar Perusahaan
Mampu membina hubungan yang baik dengan pihak-pihak di dalam maupun di luar perusahaan (pemasok, pelanggan, pemerintah, institusi pembiayaan, masyarakat sekitar, dll), yang mana akan memerlukan kemampuan berdiplomasi, dan kemampuan menghadapi situasi yang sulit.
g) Pertimbangan Independent
Mampu menimbangan secara mandiri terhadap suatu kondisi atau situasi tertentu
h) Kompleksitas Tugas
Mampu menangani tugas yang memiliki tingkat keberagaman dan kompleksitas yang tinggi, yang sering menuntut kemampuan analisa, pertimbangan dan pengambilan keputusan yang kritis.
i) Kemampuan dan Keterampilan Teknis
Memiliki kemampuan advance dalam penggunakan berbagai spreadsheet, Berbagai software akuntansi, software manajemen terkait, mampu menggunakan berbagai peralatan media dan digital terkini relvan dengan tugasnya.
Prediksi Kejadian Besar di Tahun 2012
Prediksi Kejadian Besar di Tahun 2012
- 21 Januari – Gempa Bumi,Tsunami,Nuklir,Angin Topan,Angin Tornado Eropa.
- Maret – Pemilu Presiden Perancis.
- 6 November – Pemilu Presiden Amerika Serikat
- 21 Desember – Akhir putaran IV Kalender Hitung Panjang bangsa Maya (13.0.0.0.0) yang konon katanya menjadi akhir dari umur dunia. Tapi NASA menuturkan bahwa tanggal 21 Desember 2012 akan terjadi semburan matahari dan memungkinkan akan terganggunya sistem komunikasi dunia.
- Desember – Awal putaran V Kalender Hitung Panjang.
- 27 Juli-12 Agustus – Olimpiade 2012 di London-Inggris.
- Asian Beach Games 2012 di Haiyang-Republik Rakyat Cina.
- Pekan Olahraga Nasional XVIII di Pekanbaru-Riau.
Rencana
- Kota Banda Aceh akan diresmikan kembali setelah 8 tahun Tsunami Aceh.
- NOKIA secara resmi akan memasarkan ponsel pertama yang memakai windows phone 7 pada kuartal 1 2012 secara global
Hari libur nasional di Indonesia
Hari-hari libur nasional dan cuti bersama Indonesia untuk tahun 2012:
- Januari Minggu Tahun Baru Masehi
- 23 Januari Senin Tahun Baru Imlek 2563
- 5 Februari Minggu Maulid Nabi Muhammad SAW
- 23 Maret Jumat Hari Raya Nyepi 1934
- 6 April Jumat Wafat Yesus Kristus
- 6 Mei Minggu Hari Raya Waisak 2556
- 17 Mei Kamis Kenaikan Yesus Kristus
- 17 Juni Minggu Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW
- 17 Agustus Jumat Hari Kemerdekaan RI
- 19-20 Agustus Minggu-Senin Idul Fitri 1-2 Syawal 1433H
- 26 Oktober Jumat Idul Adha 1433H
- 15 November Kamis Tahun Baru Hijriyah 1434H
- 25 Desember Selasa Hari Raya Natal
Cuti Bersama PNS
- 18 Mei Jumat Cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus
- 21-22 Agustus Selasa-Rabu Cuti bersama Idul Fitri
- 16 November Jumat Cuti bersama Tahun Baru Hijriyah 1434H
- 24 Desember Senin Cuti bersama Natal
Doa
Adakah yang akan mendoakan kita ?
>>> *Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di Rumah Sakit di ruang ICU. Disaat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia Roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.
>>>
>>> Malaikat memulai pembicaraan, “kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!
>>>
>>> “Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang … ” kata si pengusaha ini dengan yakinnya.
>>>
>>> Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati. Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali merngunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, “apakah besok pagi aku sudah pulih? pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit”.
>>>
>>> Dengan lembut si Malaikat berkata, “anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktu mu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu”.
>>>
>>> Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layer besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka”.
>>>
>>> Kata Malaikat, “aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu” Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, ” Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.” dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat”.
>>>
>>> Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.
>>>
>>> Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat ! tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang ! Dengan setengah bergumam dia bertanya, “apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?”
>>>
>>> Jawab si Malaikat, ” ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah”.
>>>
>>> Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam. Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.
>>>
>>> Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, “anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00″. Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.
>>>
>>> Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri.
>>>
>>> Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.
>>>
>>> Doa sangat besar kuasanya, tak jarang kita malas, tidak punya waktu, tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain. Ketika kita mengingat seorang sahabat lama / keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia, mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.
>>>
>>> Di saat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi. Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain… sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.
Fakta aneh tentang cowok dan cewek
Fakta Aneh Antara Cowok dan Cewek
- Rata-rata Cewek tidur lebih lama 1 jam saat malam dari pada Cowok
- Bayi cewek cenderung lebih cepat berjalan dan berbicara, bayi cowok 2 bulan lebih lambat.
- Lebih banyak kehamilan dan kelahiran dengan komplikasi (gangguan) saat mengandung bayi cowok ketimbang bayi cewek.
- Rata-rata berat otak cowok lebih berat 1,4 kg daripada berat otak Cewek.
- Pergantian kelami lebih banyak dilakukan oleh cowok.
- Cewek kurang mampu menahan dingin disebabkan permukaan kulit yang lebih besar, sehingga lebih suka pada suhu ruang yang lebih hangat.
- Cowok lebih suka bicara langsung sesuai tujuannya, sementara pembicaraan cewek terputus-putus dengan keraguan dan perasaan. Disebabkan serabut penghubung antara belahan otak kanan ( intuisi ) dan kiri ( logika ) lebi sedikit pada cewek. Sehingga ekspresi perasaan lebih mudah terjadi pada cewek.
- Cewek lebih baik indra penciumannya disebabkan tingginya hormone estrogen yang diketahui sebagai aktivator reseptor penciuman.
- Cewek mempunyai 75 % lebih banyak kelenjar keringat/peluh ( yang menghasilkan bau badan ) daripada cowok.
- Kemampuan indra lelaki untuk mengecap rasa masam, manis dan masin lebih rendah pada cewek.
- Lebih dari dua kali pada cewek cenderung homoseksual pada usia 45 tahun dari pada cowok.
- Pada saat usia tua cewek mengalami kerontokan rambut, pada usia yang sama sebagian besar cowok mengalami . kebotakan. Kebotakan disebabkan produksi berlebihan dari hormon androgen (hormon laki- laki ).
- Berpapasan dengan cewek pada jalanan ramai, cowok menghadapkan tubuhnya menghadap cewek yang dilewatinya. Cewek cenderung membalikkan badan, sering secara tidak sadar menempatkan tangan di depan badannya untuk melindungi dada.
- Kira-kira 48 % cowok mendengkur ketika tidur, hanya 22 % pada cewek
- Memilih warna Merah atau Biru: Lelaki lebih banyak memilih merah, cewek warna biru.
- Cewek rata-rata 153 detik berada di toilet, cowok 113 detik.
- Satu berbanding empat, cewek dibanding cowok yang berbicara gagap.
- Penelitian di Amerika, cewek menggunakan waktu hampir dua kali lebih banyak untuk berbelanja dibanding lelaki.
- Cewek secara umum yang lebih menentukan corak dan gaya pakaian yang dipakai.
- Penelitian di England, anak cowok lebih mudah dibohongi /dipedaya daripada anak cewek. Kalau di Indonesia?
cara setting printer pada mesin photocopy
tips and trick kali ini dipersembahkan untuk seorang teman baik yang meminta tolong saya untuk menginstall printer pada mesin potokopinya. Daripada manggil teknisi musti bayar 50.000 mending install sendiri, mudah dan cepat! cuma beberapa menit.
Cara 1:
- Klik Start Menu -> Control Panel -> Printer and Faxes
- Pilih “Add a Printer” atau File -> Add Printer
- Next -> Pilih tipe koneksi printer anda(Local printer/Network printer) – pilih “Local… printer attached to this computer” – biarkan tanda centang pada “Automatically Detect…”, NEXT
- NEXT, kemudian pilih Port yg menghubungkan copier dgn PC; pilih “Create a new port”, pilih “Standard TCP/IP Port”, NEXT
- kemudian muncul “Add Standard TCP/IP Printer Port Wizard”, NEXT isikan Printer Name or IP Address dengan IP pada mesin foto kopi iR anda.(ex:192.168.0.3) NEXT, NEXT lagi, FINISH
- Pilih Canon pada Manufacturer, pada Printer cari & pilih tipe printer anda bila tidak ditemukan, klik “Have Disk”, kemudian pilih “tipe printer anda”, NEXT, pilih “Keep existing driver”, NEXT beri nama pada Printer name terserah Anda (ex:iR6000) pilih “Yes” jika ingin dijadikan Default Printer, NEXT pilih “Do not share this printer” jika tidak ingin di sharing, NEXT jangan mencoba print test page bila mesin foto kopi belum di setting, NEXT, FINISH.
- setting IP mesin foto kopi Anda dan samakan IP-nya dgn Printer port yang Anda buat tadi, Langkah-langkah setting IP pada mesin foto kopi :
- Tekan *(bintang) / Additional Function -> System Setting ->Network Setting
- Pilih TCP/IP -> IP Address, isikan sama dgn Printer Port yg Anda buat tadi(ex:192.168.0.3)
- OK.
- tes ping dari mesin foto kopi dgn menggunakan fungsi Ping Command, masukkan IP Computer Anda (ex:192.168.0.1) akan muncul “RESPONSE FROM HOST” jika koneksi sudah terhubung, bila muncul “NO RESPONSE FROM HOST” maka coba Restart mesin foto kopi Anda.(mati kemudian nyalakan lagi) sampai koneksi benar2 terhubung.
- bila koneksi sudah terhubung, buka window Printer and Faxes lagi, klik kanan pada icon printer anda, pilih Properties. Pilih Tab “Device Settings”, klik tombol “Get Device Status” sampai muncul pesan “Got Device Information”
- h. kembali ke Tab General, kemudian klik tombol “Print Test Page”, bila hasil Test Page keluar, maka mesin foto kopi sudah siap dipakai.
Cara 2:
- Sambungkan mesin pada PC terlebih dahulu, kemudian Windows akan mendeteksi printer anda, dan akan muncul message di System Tray(pojok kanan bawah)
- Klik Message Balloon tersebut/tunggu sampai ada pesan instalasi
- Windows akan meminta driver untuk mengenali mesin foto kopi anda
- masukan cd driver anda dan secara otomatis komputer anda akan menginstall drivernya
kenapa cara kedua lebih mudah? itu karena cara kedua koneksinya menggunakan port serial atau pararel namun umumnya mesin potokopi yang tipe lama menggunakan koneksi LAN. Jika koneksinya LAN tidak akan terdetect secara otomatis oleh komputer makanya musti cara 1 dan rada ribet hehehe..
semoga membantu
rasio-rasio keuangan
RASIO – RASIO KEUANGAN PERUSAHAAN
Untuk dapat memproleh gambaran tentang perkembangan finansial suatu perusahaan, perlu mengadakan analisa atau interprestasi terhadap data finansial dari perusahaan bersangkutan, dimana data finansial itu tercermin didalam laporan keuangan. Ukuran yang sering digunakan dalam analisa finansial adalah ratio.
Laporan Keuangan dibuat agar dapat digunakan suatu kegunaan yang penting adalah dalam menganalisis kesehatan ekonomi perusahaan. Menurut Kown ( 2004 ; 107 ) : “ Hasil dari menganalisis laporan keuangan adalah rasio keuangan berupa angka-angka dan rasio keuangan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan”.
analisa Laporan Keuangan menyangkut pemeriksaaan keterkaitan angka–angka dalam laporan keuangan dan trend angka –angka dalam beberapa periode, satu tujuan dari analisis laporan keuangan menggunakan kinerja perusahaan yang lalu untuk memperkirakan bagaimana akan terjadi dimasa yang akan datang.
Menurut Van Horne ( 2005 : 234) : “Rasio keuangan adalah alat yang digunakan untuk menganalisis kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Kita menghitung berbagai rasio karena dengan cara ini kita bisa mendapat perbandingan yang mungkin akan berguna daripada berbagai angka mentahnya sendiri”.
Meskipun analisis rasio mampu memberikan informasi yang bermanfaat sehubungan dengan keadaan operasi dan kondisi keuangan perusahaan, terdapat juga unsur keterbatasan informasi yang membutuhkan kehati – hatian dalam mempertimbangkan masalah yang terdapat dalam perusahaan tersebut.
Menurut Kown (2004: 108) : Rasio keuangan setidaknya dapat memberikan jawaban atas empat pertanyaan yaitu :
1. Bagaimana Likuiditas Perusahaan
2. Apakah Manajemen efektif menghasilkan laba operasi atas aktiva
3. Bagaimana perusahaan didanai
4. Apakah pemegang saham biasa mendapatkan tingkat pengembalian
yang cukup.
Hal ini disebabkan sulitnya mendapatkan rata – rata pembanding yang tepat bagi perusahaan yang mengoperasikan beberapa divisi yang berbeda pada industri yang berlainan.
Sebagai salah satu bentuk informasi yang relevan dan kegunaanya yang efektif dalam menganalisa rasio dalam pengambilan keputusan. Dalam melakukan analisa, penganalisa dapat menggunakan dua macam perbandingan yaitu :
1. Membandingkan rasio sekarang dengan rasio – rasio yang lalu atau dengan rasio – rasio yang diperkirakan untuk waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama.
2. Membandingkan rasio perusahaan dengan rasio –rasio yang sejenis dengan perusahaan lain yang sejenis, dan pada waktu yang sama.
Menurut Sumber datanya Van Horne ( 2005 : 234) : Angka rasio dapat dibedakan atas :
1. Rasio – rasio neraca ( Balance Sheet Ratio ), yaitu ratio – ratio yang disusun dari data yang berasal dari neraca, misalnya current ratio, acid test ratio, current asset to total asset ratio, current liabilities to total asset ratio dan lain sebagainya.
2. Rasio – rasio Laporan Laba Rugi ( Income Statement Ratio ), ialah data yang disusun dari data yang berasal dari income statement, misalnya gross profit, net margin, operating margin, operating ratio dan sebagainya.
3. Rasio –rasio antar Laporan Keuangan ( Intern Statement Ratio), ialah ratio –ratio yang disusun dari data yang berasal dari neraca dan data lainya berasal dari income statement, misalnya asset turnover, Inventory turnover, receivable turnover, dan lain sebagainya.
Rasio keuangan dapat dibagi kedalam tiga bentuk umum yang sering dipergunakan yaitu : Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas ( Leverage ), dan Rasio Rentabilitas.
1. Ratio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Merupakan Ratio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajian financial jangka pendek yang berupa hutang – hutang jangka pendek (short time debt) Menurut Van Horne :”Sistem Pembelanjaan yang baik Current ratio harus berada pada batas 200% dan Quick Ratio berada pada 100%”. Adapun yang tergabung dalam rasio ini adalah :
a. Current Ratio ( Rasio Lancar)
Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki,
Current Ratio dapat dihitung dengan rumus :
Current Ratio = Aktiva Lancar / Hutang Lancar
Contoh :
Current Ratio Pada PT XYZ Medan adalah sebagai berikut ( dalam Rupiah ) :
Tahun 2005 : = 1,04
Tahun 2006 : = 1,05
Ini berarti bahwa kemampuan untuk membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar, untuk tahun 2005 adalah setiap Rp. 1 hutang lancar dijamin oleh Aktiva lancar Rp. 1,04. untuk tahun 2006 adalah setiap hutang lancar Rp. 1 dijamin oleh Rp.1,05 aktiva lancar.
b. Quick Ratio ( Rasio Cepat )
Merupakan rasio yang digunaka untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang lebih likuid . Quick Ratio dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Quick Ratio = Aktiva Lancar – Persediaan / Hutang Lancar
c. Cash Ratio ( Rasio Lambat)
Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan kas yang tersedia dan yang disimpan diBank. Cash Ratio dapat dihitung dengan Rumus yaitu :
Cash Ratio = Cash + Efek
Hutang Lancar
2. Ratio Solvabilitas
Rasio ini disebut juga Ratio leverage yaitu mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang rasio ini menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (Bank). Adapun Rasio yang tergabung dalam Rasio Leverage adalah :
a. Total Debt to Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Ekuitas)
Merupakan Perbandingan antara hutang – hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibanya .
Rasio ini dapat dihitung denga rumus yaitu :
Total Debt to equity Ratio = Total Hutang / Ekuitas Pemegang Saham
b. Total Debt to Total Asset Ratio ( Rasio Hutang terhadap Total Aktiva )
Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva diketahui. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang dibelanjai oleh hutang. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Total Debt to Total Asset Ratio = Total Hutang
Total Aktiva
3. Ratio Rentabilitas
Rasio ini disebut juga sebagai Ratio Profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau keuntungan, profitabilitas suatu perusahaan mewujudkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut.
Yang termasuk dalam ratio ini adalah :
a. Gross Profit Margin ( Margin Laba Kotor)
Merupakan perandingan antar penjualan bersih dikurangi dengan Harga Pokok penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai dari jumlah penjualan.
Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Gross Profit Margin = Laba kotor
Penjualan Bersih
b. Net Profit Margin (Margin Laba Bersih)
Merupakan rasio yang digunaka nuntuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan.
Rasio ini dapat dihitung dengan Rumus yaitu :
Net Profit Margin = Laba Setelah Pajak / Penjualan Bersih
c. Earning Power of Total investment
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan netto. . Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Earning Power of Total investment = Laba Sebelum Pajak / Total aktiva
d. Return on Equity (Pengembalian atas Ekuitas)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Return on Equity = Laba Setelah Pajak / Ekuitas Pemegang Saham
pengertian audit operasional
a. Pengertian Audit Operasional
Menurut Guy dkk. (2003:419) audit operasional merupakan penelaahan atas prosedur dan metode operasi entitas untuk menentukan tingkat efisiensi dan efektivitasnya. Pada kesimpulan tentang audit operasional, rekomendasi yang umumnya diberikan adalah memperbaiki prosedur. Audit operasional kadang-kadang disebut audit kinerja, audit manajemen, atau audit komprehensif.
Sampai saat ini para ahli memiliki definisi mengenai audit operasional yang berbeda-beda. Menurut Tunggal (2000:10) pemeriksaan operasional merupakan suatu penilaian dari organisasi manajerial dan efisiensi dari suatu perasahaan, departemen, atau setiap entitas dan sub entitas yang dapat di audit.
Sedangkan General Accounting Office (GAO) di Amerika Serikat mendefinisikan pemeriksaan operasional sebagai auditing yang menentukan :
1. Apakah entitas mengelola dan menggunakan sumber dayanya (seperti personil, kekayaan, ruangan) secara ekonomis dan efisien
2. Penyebab dari ketidakefektivan atau praktik yang tidak ekonomis, dan
3. Apakah entitas telah menaati hukum dan peraturan yang berhubungan dengan masalah ekonomis dan efisiensi.
b. Tujuan dan Manfaat Audit Operasional
Tujuan utama audit operasional adalah mengevaluasi efektifitas dan efisiensi organisasi, namun audit operasional juga dapat menjangkau aspek yang ketiga, yaitu ekonomisasi. Evaluasi ekonomi adalah pemeriksaan atas biaya dan manfaat dari suatu kebijakan atau prosedur. Dalam konteks audit operasional, evaluasi ekonomi merupakan pertimbangan jangka panjang tentang apakah manfaat kebijakan atau prosedur lebih besar daripada biayanya.
Menurut Guy dkk. (2003:421) audit operasional biasanya dirancang untuk memenuhi satu atau lebih tujuan berikut :
- Menilai Kinerja. Setiap audit operasional meliputi penilaian kinerja organisasi yang ditelaah. Penilaian kinerja dilakukan dengan membandingkan kegiatan organisasi dengan tujuan, seperti kebijakan, standar, dan sasaran organisasi yang ditetapkan manajemen atau pihak yang menugaskan, serta dengan kriteria penilaian lain yang sesuai.
- Mengidentifikasi Peluang Perbaikan. Peningkatan efektivitas, efisiensi, dan ekonomi merupakan kategori yang luas dari pengklasifikasian sebagian besar perbaikan. Auditor dapat mengidentifikasi peluang perbaikan tertentu dengan mewawancari individu (apakah dari dalam atau dari luar organisasi), mengobservasi operasi, menelaah laporan masa lalu atau masa berjalan, mempelajari transaksi, membandingkan dengan standar industri, menggunakan pertimbangan profesional berdasarkan pengalaman, atau menggunakan sarana dan cara lain yang sesuai.
- Mengembangkan Rekomendasi untuk Perbaikan atau Tindakan Lebih Lanjut.
Sedangkan Mulyadi (2002:32) menyatakan bahwa tujuan audit operasiona! adalah untuk :
1. Mengevaluasi Kinerja
2. Mengidentifikasi kesempatan untuk peningkatan
3. Membuat rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut
Secara ringkas dapat disimpuikan bahwa audit operasional dilakukan untuk mengevaluasi tingkat efisiensi dan efektivitas pelaksanaan aktivitas suatu organisasi. Audit operasional mengidentifikasi timbulnya penyelewengan dan penyimpangan yang terjadi dan kemudian membuat laporan yang berisi rekomendasi tindakan perbaikan selanjutnya. Audit operasional merupakan salah satu alat pengendalian yang membantu dalam mengelola perusahaan dengan penggunaan sumber daya yang ada dalam pencapaian tujuan perusahaan dengan efektif dan efisien.
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya audit operasional menurut Tunggal (2000:14-15) adalah:
- Memberi informasi operasi yang relevan dan tepat waktu untuk pengambilan keputusan.
- Membantu manajemen dalam mengevaluasi catatan, laporan-laporan dan pengendalian.
- Memastikan ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang ditetapkan, rencana-rencana, prosedur serta persyaratan peraturan pemerintah.
- Mengidentifikasi area masalah potensial pada tahap dini untuk menentukan tindakan preventif yang akan diambil.
- Menilai ekonomisasi dan efisiensi penggunaan sumber daya termasuk memperkecil pemborosan.
6. Menilai efektivitas dalam mencapai tujuan dan sasaran perusahaan yang telah
ditetapkan.
7. Menyediakan tempat pelatihan untuk personil dalam seluruh fase operasi
perusahaan.
Struktur Audit Operasional
Menurut Guy dkk. (2003:421-424) struktur umum dari audit operasional adalah proses lima tahap, yaitu :
1. Pengenalan
Sebelum memulai suatu audit operasional, auditor (atau konsultan) terlebih dahulu harus mengenali kegiatan atau fungsi yang sedang di audit. Untuk melaksanakan hal ini, auditor menelaah latar belakang informasi, tujuan, struktur organisasi, dan pengendalian kegiatan atau fungsi yang sedang di audit, serta menentukan hubungannya dengan entitas secara keseluruhan.
2. Survei
Selama tahap survei dari audit operasional, yang lebih dikenal sebagai survei pendahuluan (preliminary survey), auditor harus berusaha untuk mengidentifikasi bidang masalah dan bidang penting yang menjadi kunci keberhasilan kegiatan atau fungsi yang sedang di audit.
3. Pengembangan Program
Pada awalnya auditor menyusun program pekerjaan, berdasarkan tujuan audit, yang merinci pengujian dan analisis yang harus dilaksanakan atas bidang-bidang yang dianggap “penting” dari hasil survei pendahuluan. Disamping itu, auditor juga menjadwalkan kegiatan kerja, menugaskan personel yang sesuai, menentukan keterlibatan personel lainnya dalam penugasan, serta menelaah kertas kerja audit.
4. Pelaksanaan Audit
Pelaksanaan audit merupakan tahap utama dari audit operasional. Auditor melaksanakan prosedur audit yang telah ditentukan dalam program audit untuk mengumpulkan bukti-bukti, melakukan analisis, menarik kesimpulan, dan mengembangkan rekomendasi. Selama melakukan pekerjaan lapangan, auditor harus menyelesaikan setiap langkah audit yang spesifik dan mencapai tujuan audit secara keseluruhan untuk mengukur efektivitas, efisiensi, dan ekonomisasi.
5. Pelaporan
Tahap pelaporan merupakan tahap yang penting bagi keberhasilan keseluruhan audit operasional yang dilakukan. Laporan audit operasional pada umumnya mengandung dua unsur utama, yaitu (1) tujuan penugasan, ruang lingkup, dan pendekatan, serta (2) temuan-temuan khusus dan rekomendasi.
Ruang Lingkup Audit Operasional
Ruang lingkup audit operasional lebih difokuskan pada fungsi produksi suatu perusahaan, yang berarti melakukan pemeriksaan segi operasional suatu perusahaan. Namun dalam hal ini suatu perusahaan mengalami keterbatasan dalam melaksanakan audit operasional tersebut. Keterbatasan yang terjadi dalam suatu perusahaan dalam melaksanakan audit operasional antara lain :
1. Waktu
Pemeriksa harus memberikan laporan kepada pihak manajemen sesegera mungkin agar masalah yang timbul dapat segera terselesaikan, sehingga menyebabkan terbatasnya waktu pemeriksaan. Untuk mengatasi keterbatasan waktu ini, audit operasional dapat dilakukan secara teratur untuk menghindari permasalahan tidak menjadi berlarut-larut.
2. Keahlian
Kurangnya pengetahuan dan penguasaan berbagai disiplin ilmu dan bisnis merupakan salah satu keterbatasan. Tidak mungkin seorang pemeriksa dapat menjadi ahli dalam berbagai disiplin bisnis.
3. Biaya
Biaya yang dapat dihemat dari hasil pemeriksaan haruslah lebih besar dari biaya pemeriksaan itu sendiri. Pemeriksaan harus menentukan prioritas tertentu dalam melaksanakan tugasnya sehingga keterbatasan ini dapat teratasi.
Efisiensi dan Efektivitas
Audit operasional dikenal sebagai audit yang berkonsentrasi pada efektivitas dan efisiensi organisasi. Efektivitas mengukur seberapa berhasil suatu organisasi mencapai tujuan dan sasarannya. Efisiensi mengukur seberapa baik suatu entitas menggunakan sumberdayanya dalam mencapai tujuannya. Sebagai contoh, seorang auditor dapat memeriksa badan federal untuk menentukan apakah badan tersebut telah mencapai tujuannya seperti yang ditetapkan oleh kongres (efektivitas) dan menggunakan sumberdaya keuangannya secara benar (efisiensi). Pembahasan mengenai ekonomisasi, efisiensi, dan efektivitas akan lebih mudah dipahami jika dibahas dalam kerangka Input – Proses – Output. Dalam sub bab ini, lebih difokuskan pada efisiensi dan efektivitas.
a. Efisiensi
Efisiensi berhubungan dengan bagaimana perusahaan melakukan operasinya, sehingga dicapai optimalisasi penggunaan sumber daya yang dimiliki. Efisiensi berhubungan dengan metode kerja (operasi). Dalam hubungannya dengan konsep input-proses-output, efisiensi adalah rasio antar output dan input. Seberapa besar output yang dihasilkan dengan menggunakan sejumlah tertentu input yang dimiliki perusahaan. Metode kerja yang baik akan dapat memandu proses operasi berjalan dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Jadi, efisiensi merupakan ukuran proses yang menghubungkan antara input dan output dalam operasional perusahaan. (Bayangkara, 2008:13)
Menurut Anthony (2005:174) Efisiensi adalah rasio output terhadap input, atau jumlah output per unit input. Pusat Tanggung Jawab A lebih efisien daripada Pusat Tanggung Jawab B jika (1) menggunakan jumlah sumber daya yang lebih sedikit daripada Pusat Tanggung Jawab B, namun memproduksi jumlah output yang sama, atau (2) menggunakan jumlah sumber daya yang sama namun memproduksi jumlah output yang lebih besar.
b. Efektivitas
Dibandingkan dengan efisiensi, yang ditentukan oleh hubungan antara input dan output, efektivitas ditentukan oleh huungan antara output yang dihasilkan oleh suatu pusat tanggang jawab dengan tujuannya. Semakin besar output yang dikonstribusikan terhadap tujuan, maka semakin efektiflah unit tersebut. Efektivitas cenderung dinyatakan dalam istilah-istilah yang subjektif dan nonalitis, seperti kinerja kampus A adalah yang terbaik, tetapi kampus B telah agak menurun dalam tahun-tahun terakhir (Anthony, 2005:174).
Efisiensi dan efektivitas berkaitan satu sama lain, setiap pusat tanggung jawab harus efektif dan efisien dimana organisasi harus mencapai tujuannya dengan cara yang optimal. Suatu pusat tanggung jawab yang menjalankan tugasnya dengan konsumsi terendah atas sumber daya, mungkin akan efisien, tetapi jika output yang dihasilkannya gagal dalam memberikan kontribusi yang memadai dalam pencapaian cita-cita organisasi, maka pusat tanggung jawab tersebut tidaklah efektif (Anthony 2005:174-175).
Fungsi Produksi
Produksi merupakan hasil akhir dari proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input. Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa kegiatan produksi adalah mengkombinasikan berbagai input atau masukan untuk menghasilkan output. Menurut Ferguson dan Gould (1975:140, dalam Joesron dan Fathorrozi, 2003:77) fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input tertentu.
Siklus produksi berkaitan dengan proses mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Siklus ini meliputi perencanaan dan pengendalian tentang jenis dan jumlah barang yang diproduksi, tingkat persediaan yang harus diselenggarakan, dan transaksi-transaksi serta kejadian-kejadian yang bersangkutan dengan proses produksi. Transaksi dalam siklus ini dimulai pada saat bahan baku diminta untuk keperluan produksi, dan diakhiri dengan pengiriman barang yang diproduksi menjadi barang jadi (Jusup, 2002:151).
Perencanaan dan Pengendalian Produksi
1. Tujuan perencanaan dan pengendalian produksi
Tujuan dari perencanaan dan pengendalian produksi menurut Kusuma (2002:1) adalah merencanakan dan mengendalikan aliran material kedalam, di dalam, dan keluar pabrik sehingga posisi keuntungan optimal yang merupakan tujuan perusahaan dapat dicapai. Pengendalian produksi dimaksudkan untuk mendayagunakan sumber daya produksi yang terbatas secara efektif, terutama dalam usaha memenuhi permintaan konsumen dan menciptakan keuntungan bagi perusahaan. Yang dimaksudkan dengan sumberdaya mencakup fasilitas produksi, tenaga kerja, dan bahan baku. Kendala yang dihadapi mencakup ketersediaan sumberdaya, waktu pengiriman produk, kebijaksanaan manajemen.
2. Fungsi perencanaan dan pengendalian produksi dalam aktivitas produksi
Menurut Kusuma (2002:2) fungsi dasar dalam aktivitas perencanaan dan pengendalian produksi adalah:
1) Meramalkan permintaan produk yang dinyatakan dalam jumlah produk
sebagai fungsi dari waktu.
2) Menetapkan jumlah dan saat pemesanan bahan baku serta komponen secara
ekonomis dan terpadu
3) Menetapkan keseimbangan antara tingkat kebutuhan produksi, teknik
pemenuhan pesanan, serta memonitor tingkat persediaan produk jadi setiap saat, membandingkannya dengan rencana persediaan, dan melakukan revisi atas rencana produksi pada saat yang ditentukan.
4) Membuat jadwal produksi, penugasan, pembebanan mesin dan tenaga kerja
yang terperinci sesuai dengan ketersediaan kapasitas dan fluktuasi permintaan
pada suatu periode.
Dalam suatu organisasi, pengendalian produksi berguna untuk meningkatkan produktivitas. Definisi produktivitas adalah rasio nilai barang dan jasa yang dihasilkan dibagi dengan nilai sumberdaya yang digunakan dalam produksi. Jika mesin atau orang menganggur karena tidak ada pekerjaan, atau komponen menumpuk di gudang karena tidak tersedia mesin untuk mengolah komponen tersebut, maka hal ini berarti sumberdaya yang dimiliki terbuang percuma. Peran pengendalian produksi adalah meminimasi pemborosan dengan mengkoordinasikan ketersediaan tenaga kerja, peralatan, dan bahan. Perbaikan produktivitas dapat dilakukan dengan meningkatkan rancangan dan tatacara kerja produksi sehingga menjadi lebih efisien. Produktivitas juga dapat ditingkatkan dengan pengendalian produksi yang lebih baik.
Penjadwalan Produksi
Penjadwalan adalah mengatur pendayagunaan kapasitas dan sumberdaya yang tersedia melalui suatu aktivitas atau tugas. Menurut Sumayang (2003:183) Penjadwalan dapat dibedakan berdasarkan jenis proses produksi yaitu :
1. Penjadwalan proses yang terus menerus (lineprocess scheduling)
1) Penjadwalan proses ini digunakan pada jalur proses perakitan dan pada proses
pengolahan. Penjadwalan tergantung pada rancang bangun proses tersebut
terutama untuk satu jenis produk. Tetapi apabila bermacam-macam jenis
produk maka perlu diadakan perubahan pada proses dan jadwal produksi.
2) Perubahan ini mungkin saja sederhana tetapi dapat juga rumit sehingga
memerlukan perubahan mendasar pada peralatan dan pada pusat kerja.
3) Kemampuan mengikuti perubahan proses yang cepat akan memberikan suatu
keunggulan fleksibilitas untuk proses perakitan.
4) Apabila jenis produk banyak maka terjadi perubahan proses produksi, untuk
itu perlu menghitung besar persediaan yang paling ekonomis
2. Penjadwalan proses yang terputus-putus {intermittentprocess scheduling)
1) Pada produk barang istilah Job adalah bahan baku, produk dalam proses atau
barang setengah jadi.
2) Berbeda dengan penjadwalan diproses line maka penjadwalan diproses
intermittent masing-masing Job mengalir melalui pergerakan yang tidak
teratur dan penuh dengan jadwal mulai dan berhenti.
3) Aliran yang tidak teratur disebabkan karena pusat kerja dikelompokkan
berdasarkan jenis mesin dan ketrampilan pekerja yang sama, sehingga Job
akan mengalir dari satu pusat kerja ke pusat kerja yang lain sesuai dengan
jadwal dan tahapan kerja yang telah ditentukan.
4) Karena aliran dan jalur pekerjaan tidak beraturan maka penjadwalan kadang-
kadang menjadi rumit.
5) Penjadwalan proses intermittent mempunyai hubungan sangat erat dengan beberapa hal berikut ini:
1. Analisis pemasukan dan pengeluaran {input-output analysis)
2. Pemuatan (loading)
3. Tahapan (sequencing)
4. Pengiriman (Dispatching)
Sedangkan menurut P. Tampubolon (2004:110) dalam sistem operasional dikenal ada empat strategi proses yaitu :
1. Proses produksi yang terputus-putus (Intermitten Process)
Merupakan kegiatan operasional yang mempergunakan peraiatan produksi yang disusun dan diatur sedemikian rupa, yang dapat dimanfaatkan untuk secara fleksibel untuk menghasilkan berbagai produk atau jasa. Sebagai contoh, dibidang produksi barang, yaitu usaha bengkel las yang menerima order atau pesanan untuk membuat pagar atau teralis besi, yang standarnya disesuaikan dengan pesanan tersebut. Pada umumnya, proses Intermittent merupakan sistem operasional yang tidak terstandarisasi, hanya berdasarkan keinginan pelanggan pada saat dilakukan pemesanan.
2. Proses produksi yang kontinu (Continous Process)
Merupakan proses produksi yang mempergunakan peraiatan produksi yang disusun dan diatur dengan memperhatikan urutan-urutan kegiatan dalam menghasilkan produk atau jasa. Sebagai contoh, untuk produksi barang seperti minuman ringan “Teh Botol” merupakan produk yang terstandarisasi.
3. Proses produksi berulang-ulang {Repetitive Process)
Merupakan proses produksi yang menggabungkan fungsi Intermittent process dan Continous process. Tetapi proses ini mempergunakan bagian dan bahan komponen yang berbagai jenis diantara proses yang kontinu. Sebagai contoh, restoran besar yang melayani banyak pelanggan dan bermacam-macam menu.
4. Proses produksi massa (Mass Customization)
Merupakan proses produksi yang menggabungkan intermittent Process, Continous Process, serta Repetitive Process, yang menggunakan berbagai komponen bahan, mempergunakan teknik skedul produksi dan mengutamakan kecepatan pelayanan.
Mengapa kontrol tidak berjalan?
Mengapa Kontrol Tidak berjalan?
Kontrol, meskipun dibuat dengan cermat, tidak selalu mencapai tujuan yang diinginkan. Meskipun kontrol dirancang untuk membantu manajer melakukan pekerjaanya dengan lebih baik, banyak manajer memandang kontrol sebagai ancaman, sebuah tantangan yang harus diatasi. Aldag dan Stearns mengindentifikasi empat reaksi terhadap sistem control
- Dianggap sebagai permainan.
Kontrol dilihat sebagai sebuah tantangan, sesuatu yang harus dikalahkan, bukan sebagai alat yang berguna bagi manajemen.
- Dianggap sebagai objek sabotase.
- Pegawai berusaha untuk merusak sistem kontrol, menciptakan kebingungan, dan merancang proyek dengan karakteristik yang kompleks.
- Informasi yang tidak akurat. Manajer memanipulasi informasi untuk membuat dirinya dan unitnya kelihatan lebih baik atau menciptakan data yang salah sehingga kontrol tidak beroperasi.
- Ilusi kontrol. Manajer memberikan kesan bahwa sistem kontrol memang berfungsi. Padahal sistem tersebut diabaikan atau disalahartikan. Hasil yang baik dikatakan sebagai hasil dari sistem.
Sistem kontrol manajemen merupakan system yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis informasi, mengevaluasi, dan memanfaatkannya serta berbagai tindakan yang dilakukan oleh manajemen dalam melakukan pengendalian. Suatu system pengendalian manajemen harus dapat menjamin bahwa perusahaan telah melaksanakan strateginya dengan efektif dan efisien. Karakteristik system kontrol manajemen yang baik mencakup hal-hal sebagai berikut :
- Pernyataan tujuan perusahaan
- Rencana perusahaan yang digunakan untuk mencapai tujuan
- Kualitas dan kuantitas SDM yang sesuai dengan tanggung jawab yang dipikul dan adanya pemisahan fungsi yang memadai.
- Sistem pembuatan kebijakan dan praktik yang sehat pada masing-masing unit organisasi.
- Sistem penelaahan kebijakan dan praktk yang sehat pada masing-masing unit organisasi.
- Sistem penelaahan yang efektif pada setiap aktivitas untuk memperoleh keyakinan bahwa kebijakan dan praktik yang sehat telah dilaksanakan dengan baik.
- Tujuan suatu perusahaan harus dinyatakan dengan jelas dan disosialisasikan ke berbagai tingkatan manajemen untuk dipahami. Tujuan dapat menunjukkan untuk apa perusahaan didirikan dan apa yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, memahami tujuan perusahaan berarti memahami pula mengapa suatu program/aktivitas dilaksanakan untuk mencapai tujuannya.
Pernyataan tujuan
Pernyataan tujuan dapat memberikan arah kepada semua komponen dalam perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya karena dengan pernyataan tujuan ini, di dukung dengan sosialisasi yang memadai akan membantu setiap komponen di dalam perusahaan tidak saja mampu untuk melaksanakan berbagai aktivitas tetapi juga memahami untuk apa mereka melakukan aktivitas tersebut, apa manfaatnya bagi perusahaan dan bagaimana seharusnya melaksanakan aktivitas tersebut sehingga secara optimal dapat mendukung pencapaian tujuan perusahaan. Dalam melakukan penelaahan terhadap system pengendalian manajemen perusahaan, auditor harus memahami dengan baik tujuan perusahaan.
Rencana perusahaan
Rencana yang merupakan penjabaran dari tujuan perusahaan, harus disusun untuk mencapai sasaran perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang biasanya juga diikuti dengan penentuan strategi untuk mengimplementasikannya. Dalam rangka mencapai sasaran perusahaan, rencana diimplementasikan dalam berbagai program/aktivitas lengkap dengan anggaran yang ditetapkan untuk setiap program/aktivitas tersebut. Rencana dalam bentuk anggaran dapat digunakan sebagai sarana untuk mengendalikan berbagai program/aktivitas yang dilaksanakan termasuk sebagai alat untuk mengevaluasi pelaksanaan program/aktivitas tersebut.
Rencana biasanya disusun berdasarkan pencapaian terbaik perusahaan pada waktu sebelumnya untuk menentukan pencapaian terbaik berikutnya. Oleh sebab itu, penyusunan rencana harus diawali dengan adanya identifikasi terhadap ketersediaan sumber daya, berbagai hambatan internal, peluang-peluang yang mungkin dicapai, dan berbagai hambatan eksternal yang mungkin dihadapi. Yang tidak kalah pentingnya, di samping realistis rencana juga harus memuat tentang keinginan perbaikan secara terus-menerus harus dilakukan.
Kualitas dan Kuantitas Sumber Daya Manusia yang Memadai.
Perencanaan yang telah ditetapkan oleh suatu perusahaan harus didukung oleh ketersediaan SDM yang memadai dan merealisasikan rencana tersebut. Keberadaan SDM menjadi sangat penting karena semua wewenang dan tanggung jawab yang berhubungan dengan keberadaan sumber daya manusia tersebut. Kebutuhan SDM dalam perusahaan seharusnya lebih menekankan kepada kapasitas yang harus tersedia dihubungkan dengan berbagai program/aktivitas yang dilaksanakan dalam perusahaan. Kapasitas SDM yang harus tersedia dipengaruhi oleh dua hal penting yaitu kualitas dan kuantitas. Karyawan yang banyak tanpa tanpa kemampuan dan keterampilan yang sesuai dengan program/aktivitas yang dilaksanakan akan menimbulkan pemborosan karena keberadaannya tidak akan mampu memberikan kontribusi kepada perusahaan. Untuk menilai ketersediaan SDM dan efektivitasnya dalam mendukung pencapaian tujuan perusahaan, auditor harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- Apakah rekrutmen karyawan yang dilakukan telah melalui suatu perencanaan SDM?
- Apakah seleksi karyawan yang dilakukan telah sesuai dengan pedoman penerimaan karyawan yang telah ditetapkan?
- Apakah karyawan yang diterima telah sesuai dengan kualifikasi bidang kerja (jabatan) yang akan diisi dan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang ada pada perusahaan.
- Apakah spesfikasi dan deskripsi tersedia untuk masing-masing jabatan yang ada dalam perusahaan.
- Apakah keputusan penempatan karyawan telah melalui orientasi yang memadai dan sesuai dengan kecenderungan berprestasi karyawan tersebut?
- Apakah setiap pekerjaan telah dilengkapi dengan uraian kerja yang memadai
- Apakah program peningkatan kemampuan karyawan telah dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan dilaksankan secara efektif dan efisien?
- Apakah penilaian prestasi, pemberian sanksi atau penghargaan kepada karyawan telah dilakukan secara adil, sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku di perusahaan tersebut?
Kebijakan dan Praktik yang sehat
Berbagai kebijakan dibuat untuk mendukung kelangsungan praktik yang sehat di dalam perusahaan. Oleh karena itu, perumusan kebijakan harus memperhatikan kepentingan berbagai pihak yang ada di dalam perusahaan tersebut. Hal ini akan mendorong terjadinya keselarasan tujuan dalam perusahaan dan dapat memotivasi berbagai pihak untuk memberikan kontribusinya. Untuk mendukung praktik yang sehat, berbagai kebijakan yang dibuat perusahaan harus dikomunikasian kepada seluruh pihak yang berkepentingan agar terjadi komunikasi timbale balik antar kedua kelompok kepentingan utama yaitu pihak perusahaan yang diwakili manajemen dan karyawan. Seperangkat kebijakan biasanya dikomunikasikan dalam bentuk buku pedoman kebijakan dan praktik-praktik yang sehat dikomunikasikan dalam bentuk buku pedoman prosedur operasional. Dalam menguji kebijakan yang dibuat oleh perusahaan, auditor harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Apakah kebijakan dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tertulis dan sistematis serta dikomunikasikan kepada seluruh tingkatan manajemen dan karyawan secara sistematis dan tepat waktu.
2) Apakah kebijakan yang dibuat telah sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan dilakukan peninjauan serta revisi secara berkala.
3) Apakah kebijakan yang dibuat telah mengakomodasi kepentingan berbagai pihak dalam perusahaan dan secara tegas mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak.
4) Apakah kebijakan telah dibuat untuk melaksanakan kegiatan/aktivitas secara hemat efisien dan efektif.
5) Apakah ada kebijakan khusus bagi setiap pengendalian manajemen lain yang relevan dengan pelaksanaan kebijakan termasuk sanksi-sanksi terhadap pelanggaran kebijakan tersebut berdasarkan peraturan yang berlaku.
Sistem Review yang efektif
Sistem review menyangkut bagaimana pihak-pihak yang berwenang melakukan review terhadap berbagai aktivitas/kegiatan yang dilakukan. Hal ini merupakan suatu bentuk pengendalian terhadap proses yang berlangsung. Manajemen harus menetapkan sasaran yang ingin dicapai dan tolak ukur pengukuran ekonomisasi, efisiensi, dan efektivitas pelaksanaan aktivitas. Dalam system review yang baik, pelaksanaan supervisi harus dilaksanakan secara memadai. Supervisor harus mampu mengarahkan pelaksanaan prosedur berjalan secara ekonomis, efektif, dan efisien serta sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan.
Auditor harus melakukan audit terhadap semua rencana yang dibuat berkaitan dengan aktivitas yang akan dilakukan termasuk ketersediaan sumber daya untuk melakukan aktivitas tersebut. Di samping itu auditor juga harus menelusuri semua metode yang digunakan manajemen dalam membandingkan pelaksanaan aktivitas sesungguhnya dengan rencana yang berkaitan dengan aktivitas tersebut. Dalam hal ini auditor harus melakukan pengamatan langsung terhadap kekuatan maupun kelemahan system pengendalian manajemen yang dimiliki perusahaan.
Elemen system review yang lain yang harus ada dalam system pengendalian manajemen yang baik adalah adanya fungsi pelaporan internal dan fungsi audit internal. Auditor harus menilai sifat dan efektivitasnya metode review dan pelaporan internal yang berhubungan dengan masing-masing aktivitas yang diaudit. Efektivitas system pelaporan internal perusahaan dapat dinilai dari hal-hal sebagai berikut :
Efektivitas system pelaporan internal perusahaan internal perusahaan dapat dinilai dari hal-hal sebagai berikut :
1. Apakah system pelaporan yang dimiliki dapat memberikan informasi mutakhir yang dibutuhkan oleh pejabat-pejabat yang bertanggung jawab, untuk kepentingan tindakan manajemen?
2. Apakah ada keharusan dari setiap pelaksana untuk melaporkan secara tertulis setiap hasil kerja/aktivitas yang dilakukan?
3. Apakah laporan disusun berdasarkan data dan informasi yang benar dan tepat waktu?
Sedangkan efektivitas audit internal dapat dinilai dari hal-hal berikut ini :
1. Apakah ada petugas auditor internal dan telah ditempatkan pada posisi yang benar dalam organisasi?
2. Apakah ruang lingkup auditnya ditetapkan dengan jelas dan audit internal tersebut telah memenuhi syarat kompetensi, dapat diandalkan dan tepat waktu?
3. Apakah audit ditekankan pada perbaikan organisasi dan adalah prosedur yang mengatur tindak lanjut atas hasil auditnya?
Kesimpulan hasil review dan pengujian terhadap pengendalian manajemen dapat memberikan gambaran kepada auditor tentang :
1. Keandalan system pengendalian manajemen perusahaan dalam memandu operasional yang berlangsung pada perusahaan tersebut dan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan dokumentasi, pengukuran, penilaian terhadap aktivitas yang dilaksanakan.
2. Apakah tersedia cukup bukti yang dibutuhkan dalam pengembangan tujuan audit sementara menjadi tujuan audit yang sesungguhnya, sehingga dapat dipergunakan sebagai tujuan audit selanjutnya, atau tidak tersedia cukup bukti sehingga pengembangan tujuan audit sementara ini tidak perlu dilanjutkan.
3. Langkah kerja yang dilaksanakan pada tahap berikutnya untuk memudahkan program kerja audit lanjutan guna mengetahui :
a. Apakah ruang lingkup kegiatan audit telah ditetapkan dengan jelas dan pekerjaan audit internal perusahaan telah memenuhi syarat kompetensi, dapat diandalkan dan tepat waktu?
b. Menentukan tujuan audit bersama penanggung jawab mengenai audit lanjutan
Ada tujuh langkah kunci yang harus diperhatikan auditor dalam melakukan review dan pengujian terhadap pengendalian manajemen perusahaan, yaitu :
1) Menetapkan tingkat penting dan pekanya hal-hal pokok dari program/aktivitas yang diaudit.
2) Menilai tingkat kerentanan program/aktivitas tersebut terhadap penyalahgunaan sumber daya, kegagalan pencapaian sasaran dan ketidaktaatan terhadap ketentuan, peraturan dan kebijakan yang ditetapkan perusahaan.
3) Mengindentifikasi dan memahami pengendalian-pengendalian manajemen yang relevan.
4) Menetapkan apa yang sudah diketahui tentang efektivitas pengendalian.
5) Menilai kecukupan desain pengendalian
6) Menetapkan melalui pengujian apakah pengendalian-pengendalian yang ada sudah cukup efektif.
7) Melaporkan hasi-hasil penilaian manajemen dan mendiskusikan tindakan-tindakan perbaikan yang diperlukan.
Kontrol Preventif, Detektif, dan Korektif
Kontrol preventif lebih efektif dari segi biaya dibandingkan kontrol detektif. Ketika diterapkan ke dalam sebuah system, kontrol preventif dapat mencegah kekeliruan dan oleh karena itu mencegah biaya perbaikan. Kontrol preventif bisa mencakup, misalnya : Karyawan yang kompeten dan dapat dipercaya; pemisahan tugas untuk mencegah pelanggaran yang disengaja, otorisasi yang layak untuk mencegah penggunaan sumber daya organisasi dengan tidak semestinya; dokumentasi dan catatan yang memadai serta prosedur pencatatan yang layak untuk mencegah transaksi yang tidak semestinya; dan kontrol fisik atas aktiva untuk mencegah penyalahgunaan atau pencurian.
Kontrol detektif biasanya lebih mahal dibandingkan kontrol preventif, tetapi tetap saja diperlukan. Pertama, kontrol detektif mengukur efektivitas kontrol preventif. Kedua, beberapa kekeliruan tidak bisa secara efektif dikendalikan oleh system pencegahan; kekeliruan tersebut harus dideteksi saat terjadi. Kontrol detektif mencakup pemeriksaan dan perbandingan, seperti catatan kinerja dan pemeriksaan independen atas kinerja. Kontrol detektif juga mencakup sarana kontrol seperti rekonsiliasi bank, konfirmasi saldo bank, perhitungan kas, rekonsiliasi rincian piutang usaha kea kun pengendali piutang usaha, pemeriksaan fisik persediaan dan analisis varians, konfirmasi dengan pemasok utang usaha, penggunaan teknik-teknik komputer seperti limit transaksi, kata kunci, pengeditan, dan system pemeriksaan seperti audit internal.
Kontrol korektif dilakukan bila terjadi hal-hal yang tidak semestinya dan telah dideteksi. Semua kontrol detektif tidak ada gunanya bila kelemahan yang telah diidentifikasi tidak diperbaiki atau dianggap tidak masalah bila terulang. Oleh karena itu, manajemen harus mengembangkan system yang tetap menyoroti kondisi-kondisi yang tidak diinginkan sampai diperbaiki, dan jika layak, harus menetapkan prosedur-prosedur untuk mencegah terulangnya kondisi tersebut. Pendokumentasian dan system pelaporan membuat masalah-masalah tetap berada di bawah pengawasan manajemen sampai diselesaikan atau kerusakan diperbaiki.
